Close

Dollar Cost Averaging

Dalam melakukan investasi, tidak boleh asal-asalan melakukan pembelian sebuah saham. Anda harus memiliki strategi entry dan exit yang tepat agar mendapatkan keuntungan di pasar saham. Tanpa strategi yang terencana, mungkin anda akan mengalami kerugian dan bahkan karam ditengah jalan. Meskipun saham yang anda pilih adalah saham yang berfundamental bagus.

Setiap investor tentu memiliki stategi sendiri dalam melakukan investasi. Mungkin selama ini anda masih bingung dalam memilih strategi investasi.

Tidak perlu bingung.

Kami akan jelaskan salah satu metode entry yang cocok diterapkan untuk posisi jangka panjang. Goal dari metode ini adalah mendapatkan average price yang rendah.

Hmm, cukup menarik bukan?

Lalu apakah strategi atau metode ini juga menguntungkan ?

Tentu saja semua strategi dapat menguntungkan jika dijalankan dengan konsisten dan disiplin

Tanpa berlama-lama mari kita simak penjelasan berikut ini :

Metode ini diberi nama Dollar Cost Averaging atau sering disingkat DCA. Dollar Cost Averaging (DCA) adalah strategi investasi dimana seorang investor membagi jumlah total yang akan diinvestasikan, di seluruh pembelian secara berkala dari saham yang dipilih. Hal ini dilakukan dalam upaya mengurangi dampak volatilitas pada pembelian keseluruhan.

Baca Juga: Review Kinerja Bank Syariah

Misalnya saja anda melakukan pembelian suatu saham dengan estimasi 50 juta rupiah kemudian membaginya setiap minggu melakukan pembelian sejumlah 2 juta rupiah. Dengan melakukan metode ini, lebih banyak saham yang akan dibeli ketika harga saham turun dan lebih sedikit saham akan dibeli ketika harga tinggi.

Loh, kenapa harus membeli secara berkala pak YEF? Kenapa tidak membeli sekali saja saat harga berada di paling rendah, lalu jual di harga tinggi ?

Tidak semudah itu Ferguso,

Untuk melakukan hal semacam itu, anda harus bisa memprediksi secara tepat kapan harga terendah terjadi dan itu tidak mudah bahkan untuk investor professional sekalipun.

Metode DCA cocok untuk pemula, karena dapat meminimalisir kerugian dalam investasi ketika harga saham mengalami penurunan dengan melakukan average down. Selain itu, ketika harga saham yang turun tersebut mengalami rebound maka akan memberikan impact yang cukup signifikan.

Tabel Akumulasi Saham $SCMA di PIRS

Metode ini sudah kami terapkan dalam melakukan akumulasi saham SCMA di portofolio PIRS (Private Investing Room Syariah).

PIRS mulai melakukan akumulasi secara bertahap pada saham $SCMA sejak bulan Agustus 2019 dari rentang harga 1200an. Dua bulan berjalan, harga saham $SCMA masih mengalami penurunan hingga harga 1080. Dengan menggunakan metode DCA ini, PIRS masih terus melakukan akumulasi saham $SCMA hingga mendapatkan average harga yang lebih rendah yaitu 1214,88. Seiring berjalannya waktu sampai pertengahan Januari 2020, harga saham $SCMA melonjak secara signifikan hingga menginjak harga 1620an.

Baca Juga: Strategi Merubah Loss Menjadi Profit

Metode DCA ini sudah kami buktikan sendiri memberikan keuntungan yang signifikan dan dapat meminimalisir kerugian dibanding dengan melakukan pembelian dalam satu waktu.

Bagaimana, tertarik untuk mencobanya ?

Eits tunggu dulu..

Tentu ada kekurangan dari metode ini, yaitu ketika harga saham yang anda incar mengalami bullish, strategi ini malah mengurangi keuntungan dalam berinvestasi karena terpaksa kita akan melakukan averaging up.

Kemudian metode DCA hanya cocok untuk investasi jangka panjang untuk saham-saham berfundamental bagus dan sedang bergerak dalam tren naik jangka panjang. jadi metode ini tidak bisa diterapkan di saham-saham yang tidak layak investasi

Padahal, dari ratusan saham hanya ada 9 saham Syariah yang layak investasi

Apa saja sahamnya dan bagaimana investing plannya?

Join Private Investing Room Syariah untuk mendapatkan rekomendasi saham layak investasi lengkap dengan investing plan dan panduan belinya. Selain itu anda juga dapat berkonsultasi dengan tim kami untuk memperbaiki portofolio supaya lebih menguntungkan kedepannya.

Daftar sekarang
Link registrasi :
yefadvisor.com/register

Market Educator: Jack Darmono
Graphic Designer: Hayu Winursita Linuhung

Social Share