
Saat market turun seperti sekarang ini, investor dibingungkan harus beli saham yang mana. Misalkan investor saham bank bingung pilih antara BBCA, BBRI, BBNI, atau BMRI. Ada yang pilih saham bank karena menjadi nasabah atau hanya karena satpamnya terkenal ramah

Sering kali investor terjebak dalam bias subjektif dalam mengambil keputusan. Misalnya, mereka memilih saham hanya karena saham tersebut juga dimiliki oleh pemerintah atau BUMN. Hal ini dapat membuat investor mengabaikan analisis fundamental yang seharusnya menjadi dasar utama dalam memilih saham.
Selain itu, investor juga sering terpengaruh oleh berita negatif atau sentimen pasar jangka pendek. Ketika harga saham turun drastis, muncul rasa takut untuk membeli, padahal bisa jadi penurunan tersebut justru menciptakan peluang investasi yang menarik. Sebaliknya, saat harga saham sedang naik tinggi, investor sering merasa tergoda untuk membeli tanpa mempertimbangkan valuasi yang sebenarnya.
Ada juga investor yang memilih saham hanya karena melihat dividen yang besar tanpa mempertimbangkan keberlanjutan pembayaran dividen tersebut di masa depan.
Kesalahan lainnya adalah terlalu sering keluar-masuk pasar tanpa strategi yang jelas. Ketika harga saham turun, investor panik dan menjual sahamnya, hanya untuk melihat harga naik kembali setelahnya. Pola seperti ini tidak hanya mengurangi potensi keuntungan tetapi juga meningkatkan biaya transaksi yang bisa menggerus hasil investasi secara keseluruhan.
Jadi, bagaimana cara memilih saham yang tepat di tengah kondisi market yang sedang fluktuatif?
Kami sudah siapkan artikel edukasi untuk member PIR dan PIRS tentang cara memilih saham yang efektif dan akurat. Baca Metode Memilih saham Fuzzy TOPSIS dibawah ini
Dapatkan akses artikel edukasi diatas dengan join PIR ataupun PIRS, Member juga mendapatkan fasilitas konsultasi rencana investasi saham dan juga rekomendasi saham layak investasi dilayanan Private Investing Room Reguler & Khusus untuk saham syariah di layanan Private Investing Room Syariah