Banyak investor dividend membuat satu kesalahan yang sama: mereka terlalu fokus pada dividend yield, namun mengabaikan timing saat membeli saham.
Padahal, dalam praktiknya: Timing beli jauh lebih menentukan hasil akhir dibanding sekadar yield.
Kita ambil contoh saham perbankan terbesar di Indonesia: BBRI yang rutin memberikan dividend setiap tahun. Market crash tahun 2020 adalah kesempatan emas membeli saham BBRI dan saham dividend lain karena harga terdiskon. Namun mayoritas investor saat itu kabur dan takut investasi.
Peluang emas ini kami manfaatkan dengan maksimal di layanan PIR. Pada bulan Mei 2020, kami memandu member PIR melakukan akumulasi BBRI secara bertahap dibawah 2200. Saat itu kami mencoba meyakinkan member untuk berani melakukan investasi meskipun market dihadapkan banyak ketidakpastian. Semua rekomendasi sudah diukur dan sudah dikalkulasi matang baik dari sisi return maupun risiko.
Mungkin apabila kami menunggu market pulih return yang diperoleh member PIR tentunya berbeda. Untuk memahami ini, mari kita lihat studi kasus nyata.
Studi Kasus: Dua Investor, Satu Saham, Hasil Berbeda
Dua investor dengan modal yang sama, yaitu Rp1 miliar, mengambil keputusan di waktu yang berbeda.
Keterangan
Investor A (2020)
Investor B (2021)
Harga Beli
Rp2.200
Rp4.000
Modal Investasi
Rp 1 Miliar
Rp 1 Miliar
Jumlah Saham
454.545 lembar
250.000 lembar
Perbedaan Langsung: Jumlah Saham Investor A memiliki ~80% lebih banyak saham dibanding Investor B. Inilah dampak dari keberanian membeli saat market turun.
Hasil dividend
Tahun
Dividend per Saham
2021
Rp174
2022
Rp288,22
2023
Rp319
2024
Rp343,40
Total
Rp1.124,62
Selama periode tahun 2021 hingga tahun 2024 BBRI membagikan dividend total Rp1.124,62.
Keterangan
Investor A
Investor B
Jumlah Saham
454.545
250
Total Dividend per Saham
Rp1.124,62
Rp1.124,62
Total Dividend
Rp 511 Juta
Rp 281 Juta
Nominal dividend BBRI sama namun hasil dividen investor A berbeda dengan investor B disebabkan oleh Jumlah saham.
Keterangan
Nilai
Selisih Dividend
Rp230.036.000
Kelebihan Investor A
81,8%
Investor A mendapatkan hasil dividend Rp230 Juta atau 2x lipat lebih besar dibandingkan hasil investor B. Padahal Padahal:
Saham sama
Modal sama
Holding period sama
π Yang berbeda hanya satu: TIMING BELI
Pelajaran Penting: Dividend Yield Bisa Menipu
Banyak investor berpikir:
βSaya tunggu market stabil dulu, yang penting yield bagus.β
Namun kenyataannya:
Saat harga sudah naik β yield turun
Jumlah saham yang didapat lebih sedikit
Total dividend jadi jauh lebih kecil
π Yield tinggi tidak ada artinya jika Anda masuk terlambat
Kenapa Market Turun Justru Momentum Terbaik?
Saat market turun: βοΈ Harga saham lebih murah βοΈ Bisa beli lebih banyak saham βοΈ Potensi dividend masa depan lebih besar
π Inilah yang dilakukan member PIR di tahun 2020
Mereka tidak menunggu βamanβ Mereka mulai akumulasi saat market masih takut
Dan hasilnya:
Jumlah saham lebih besar
Dividend lebih besar
Capital gain juga lebih optimal
Kondisi market saat ini kembali menunjukkan pola yang sama:
Tekanan harga
Sentimen negatif
Banyak investor menunggu
Namun seperti yang sudah terbukti:
Keuntungan terbesar selalu datang dari mereka yang masuk lebih dulu, bukan yang menunggu kepastian.
Saatnya Mengambil Keputusan yang Berbeda
Jika Anda ingin serius di dividend investing, maka yang perlu diubah bukan hanya saham yang dibeli, tetapi:
π kapan Anda membelinya
Mulai Bersama PIR & PIRS
YEF Advisor membantu Anda untuk: βοΈ Menentukan saham dividend berkualitas βοΈ Menyusun strategi akumulasi di harga terbaik βοΈ Mengoptimalkan hasil jangka panjang
Dari studi kasus sederhana ini, kita bisa melihat:
π Bukan siapa yang lebih pintar π Tapi siapa yang lebih tepat timing-nya
Tahun 2020 sudah memberi pelajaran. Sekarang kesempatan itu datang kembali.