
Pasar saham Indonesia mencatat tekanan berlanjut termasuk pada sektor perbankan sepanjang 2025–2026, dengan keempat bank besar kehilangan 25–35% nilai pasar mereka dari puncak historis. Pertanyaan kritis bagi investor: apakah penurunan ini mencerminkan deteriorasi fundamental yang nyata, atau semata-mata diskon valuasi yang diciptakan oleh rotasi global dari pasar emerging market?
Laporan ini menggunakan empat metodologi valuasi berlapis yang secara khusus didesain untuk emiten bank di mana pendekatan konvensional berbasis DCF arus kas bebas tidak dapat diterapkan secara langsung untuk menjawab pertanyaan tersebut secara kuantitatif dan objektif.
Mengapa Metodologi Standar Tidak Berlaku untuk Bank
Penilaian saham bank memerlukan pendekatan berbeda dari sektor non-keuangan. Karena utang (deposit nasabah) adalah bahan baku operasional bank bukan sekadar instrumen pembiayaan, nilai perusahaan berbasis EBITDA atau free cash flow tidak memiliki makna ekonomi yang valid. Kerangka valuasi yang digunakan dalam riset ini adalah:
1. Price-to-Book Value (PBV) membandingkan harga pasar terhadap nilai buku ekuitas per saham; standar primer untuk bank.
2. Justified PBV via ROE/CoE menghitung PBV yang secara teoritis “wajar” berdasarkan Return on Equity relatif terhadap biaya ekuitas.
3. Gordon Growth Model (GGM) adaptasi bank valuasi berdasarkan sustainable dividend, pertumbuhan laba, dan required return.
4. P/E Relatif sektoral komparasi dengan rata-rata sektor dan historis 5 tahun.
Data Fundamental FY2025
| Metrik | BBRI | BBCA | BMRI | BBNI |
| EPS FY2025 (Rp) | 388 | 467 | 603 | 577 |
| Book Value/Share (Rp, est. FY25) | 2.15 | 2.4 | 3.1 | 4.2 |
| ROE FY2025 (%) | 18,1% | 24,1% | 21,0% | 13,5% |
| Net Interest Margin / NIM (%) | 7,5% | 5,8% | 4,5% | 3,9% |
| Gross NPL (%) | 3,0% | 1,7% | 0,8% | 2,5% |
| Dividend Yield @ harga saat ini | ~11,9% | ~8,7% | ~7,5% | ~6,2% |
| Loan Growth FY2025 (YoY) | 12,3% | 9,9% | ~8,5% | ~7,0% |
| Net Profit FY2025 (Rp tn) | 58,5 | 57,5 | 56,3 | 21,5 |
Seluruh angka di bawah ini bersumber dari laporan keuangan full-year 2025 yang telah diaudit, dikonfirmasi silang melalui minimum tiga sumber independen
Analisis Valuasi Metode 1 : Price-to-Book Value (PBV)
PBV adalah rasio fundamental terpenting dalam penilaian bank. Seorang investor membayar berapa kali lipat nilai buku ekuitas untuk memperoleh kepemilikan. PBV di bawah 1,0x secara teoritis berarti pasar menghargai bank lebih murah dari nilai liquidasi buku ekuitas bersihnya.
| Emiten | Harga (3 Jun 26) | BVPS Est. | PBV Aktual | PBV Hist. 5Y | Diskon vs Hist. |
| BBRI | Rp 2.900 | Rp 2.150 | 1,35x | 2,2–2,5x | -45% |
| BBCA | Rp 5.525 | Rp 2.400 | 2,30x | 3,5–4,5x | -40% |
| BMRI | Rp 4.050 | Rp 3.100 | 1,31x | 2,0–2,5x | -45% |
| BBNI | Rp 3.570 | Rp 4.200 | 0,85x | 1,0–1,3x | -30% |
BBNI secara diperdagangkan di bawah nilai buku (PBV 0,85x), kondisi langka untuk bank BUKU IV dengan ROE positif. BBRI dan BMRI berada di 1,3x level yang secara historis hanya pernah terjadi pada krisis pandemi 2020. BBCA meskipun masih premium relatif, turun lebih dari 40% dari kisaran historisnya.
Analisis Valuasi Metode 2 : Justified PBV (ROE/CoE Framework)
Justified PBV adalah konsep dari Damodaran yang menjawab pertanyaan: “Berapa PBV yang seharusnya ditawarkan pasar, mengingat ROE dan biaya ekuitas bank tersebut?” Dengan asumsi risk-free rate Indonesia 10-year government bond 6,8%, equity risk premium 6,0%, beta rata-rata sektor 0,65, maka CoE ≈ 10,7%. Sustainable growth rate diasumsikan 5–6% sesuai proyeksi GDP nominal Indonesia.
| Emiten | ROE FY25 | CoE (est.) | g (sustainable) | Justified PBV | PBV Aktual | Status |
| BBRI | 18,1% | 10,7% | 5,5% | 2,38x | 1,35x | Undervalued |
| BBCA | 24,1% | 10,7% | 5,5% | 3,62x | 2,30x | Undervalued |
| BMRI | 21,0% | 10,7% | 5,5% | 2,96x | 1,31x | Undervalued |
| BBNI | 13,5% | 10,7% | 5,0% | 1,45x | 0,85x | Undervalued |
Hasil Justified PBV mengkonfirmasi bahwa keempat bank diperdagangkan di bawah level yang secara fundamental terjustifikasi oleh profil ROE mereka. Diskon paling dalam ada di BMRI (aktual 1,31x vs justified 2,96x) dan BBRI (1,35x vs 2,38x). BBNI meski ROE-nya lebih rendah, tetap undervalued secara justified PBV.
Analisis Valuasi Metode 3 — P/E Ratio Relatif
Meskipun bukan metodologi primer untuk bank, P/E memberikan perspektif komparatif yang berguna, terutama dibandingkan dengan rata-rata historis dan sektoral.
| Emiten | EPS FY25 | P/E Aktual | P/E Hist. 5Y | P/E Sektor ID | Diskon vs Sektor |
| BBRI | Rp 388 | 7,5x | 12–16x | ~15x | -50% |
| BBCA | Rp 467 | 11,8x | 22–30x | ~15x | -21% |
| BMRI | Rp 603 | 6,7x | 12–15x | ~15x | -55% |
| BBNI | Rp 577 | 6,2x | 8–12x | ~15x | -59% |
P/E yang rendah tidak selalu berarti murah jika disertai deteriorasi kualitas aset (rising NPL) atau kompresi NIM. BBRI mencatat gross NPL 3,0% lebih tinggi dari peers yang mencerminkan tekanan pada segmen mikro. Hal ini menjelaskan sebagian diskon lebih dalam dibandingkan BMRI dan BBCA. Investor perlu mempertimbangkan trajectory NPL Q1 2026 sebelum menyimpulkan bahwa diskon ini sepenuhnya tidak terjustifikasi.
Analisis Valuasi Metode 4 : Gordon Growth Model (GGM)
GGM menggunakan dividend sebagai proksi distribusi nilai kepada pemegang saham. Untuk bank dengan payout ratio tinggi seperti BBRI, ini merupakan metode yang sangat relevan.
| Emiten | DPS FY25 (est.) | Payout Ratio | D₁ (proj.) | Nilai GGM | Harga Aktual | Margin of Safety |
| BBRI | Rp 345 | 89% | Rp 365 | Rp 7.038 | Rp 2.900 | 1.42 |
| BBCA | Rp 220 | 47% | Rp 230 | Rp 4.423 | Rp 5.525 | -20% (premium) |
| BMRI | Rp 303 | 50% | Rp 320 | Rp 6.154 | Rp 4.050 | 0.52 |
| BBNI | Rp 220 | 38% | Rp 232 | Rp 4.462 | Rp 3.570 | 0.25 |
GGM sangat sensitif terhadap asumsi g dan CoE. BBCA menunjukkan premium pada GGM karena payout ratio rendah bank ini menahan lebih banyak laba untuk pertumbuhan. Nilai GGM BBRI yang sangat tinggi mencerminkan payout ratio 89% dan merupakan batas atas valuasi, bukan target price realistis.
Scorecard Empat Metode

BMRI Best Risk-Adjusted Value. EPS FY2025 tercatat Rp 603 dengan ROE 21,04% dan P/E trailing hanya 7,05x. NPL gross terendah di antara peers pada 0,76%, menjadikannya pilihan paling menarik dari sisi kualitas-versus-harga. Justified PBV menunjukkan upside 126% menuju level fundamental yang terjustifikasi.
BBRI Deep Value dengan yield tertinggi. ROE berada di 18,14% dengan dividend yield mencapai 11,31%, namun payout ratio tinggi di 93,1% membuat dividend belum sepenuhnya tertutup oleh earnings. Risiko utama adalah tekanan NPL di segmen mikro.
BBCA Quality at Discount. Kredit tumbuh 9,9% YoY ke Rp 756,5 triliun, NPL terjaga di 1,7%, dan total aset mencapai Rp 1.586 triliun per akhir 2025. EPS FY2025 mencapai Rp 467, naik dari Rp 445 pada FY2024, dengan net income Rp 58 triliun. PBV 2,3x masih terdiskon ~40% dari kisaran historis 3,5–4,5x
BBNI — Below Book. P/E trailing hanya 7,73x dengan ROE 13,47%. Laba bersih per saham FY2025 setara Rp 542,75 per lembar. Satu-satunya dari Big-4 yang diperdagangkan di bawah nilai buku (PBV 0,85x)
Disclaimer: Seluruh analisis dalam dokumen ini merupakan hasil kalkulasi kuantitatif berdasarkan data publik yang diverifikasi silang dan bukan merupakan rekomendasi investasi yang bersifat personal. Asumsi-asumsi kunci (CoE, growth rate, normalisasi PBV) dapat berubah secara material apabila kondisi makro bergeser signifikan dari baseline. Investor wajib melakukan due diligence mandiri atau berkonsultasi dengan penasihat keuangan berlisensi sebelum mengambil keputusan investasi apapun. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa depan.
