
Pada perdagangan kemarin, IHSG kembali melanjutkan pelemahan sekitar -0,8% setelah pasar merespons keputusan Bank Indonesia (BI) yang menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 bps menjadi 5,25%. Kebijakan ini diambil sebagai langkah stabilisasi nilai tukar Rupiah dan menjaga arus modal di tengah tekanan eksternal yang masih tinggi.
Pelemahan IHSG kali ini terutama dipicu tekanan pada saham-saham berisiko tinggi dan cyclical seperti BUMI, BRPT, dan TPIA, yang cenderung sensitif terhadap perubahan likuiditas dan kenaikan cost of capital.
Secara umum, kenaikan suku bunga memperkuat sentimen risk-off di pasar saham karena:
• biaya pinjaman meningkat
• Pertumbuhan usaha menjadi lebih tertekan
• konsumsi dan ekspansi bisnis berpotensi melambat
• investor mulai berpindah ke instrumen yang lebih defensif
Secara teknikal, IHSG masih berada dalam fase downtrend dan belum menunjukkan konfirmasi reversal yang kuat. Selama IHSG belum mampu kembali merebut area resistance penting, volatilitas dan tekanan jual masih berpotensi berlanjut.
Dengan kondisi seperti saat ini, pendekatan defensif dan disiplin risk management tetap menjadi strategi utama.
