Close

PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk Q1 2026 Earnings Review: Sebuah Titik Balik?

Bulan April 2026 PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk mencatatkan laba bersih untuk pertama kalinya sebesar Rp171 miliar. Ini adalah sebuah titik balik krusial karena periode yang sama tahun sebelumnya masih mencatatkan rugi bersih Rp367 miliar. Ini bukan sekadar angka; ini adalah validasi fundamental atas thesis transformasi bisnis yang kami pantau selama empat tahun terakhir.


Pendapatan dan Profitabilitas

Pendapatan bersih GOTO mencapai Rp5,3 triliun per Maret 2026, tumbuh 26% secara year-on-year dari Rp4,2 triliun per Maret 2025. Peningkatan signifikan ini disebabkan oleh pertumbuhan pendapatan di seluruh segmen, mulai dari jasa pengiriman, imbalan jasa, pendapatan e-commerce, hingga imbalan iklan. Dari sisi beban dan biaya, kenaikannya relatif lebih rendah dari pendapatan — jumlah beban dan biaya GOTO mencapai Rp4,9 triliun sepanjang kuartal I 2026 atau meningkat hanya 11% year-on-year.

Inilah yang disebut operating leverage yang sesungguhnya pendapatan tumbuh 26%, sementara biaya hanya naik 11%.

Gross Transaction Value (GTV) meningkat 63% YoY

GTV inti grup mencapai Rp138 triliun dengan total GTV naik menjadi Rp236 triliun, meningkat 63% YoY. EBITDA Grup yang disesuaikan mencapai Rp907 miliar, naik 131% YoY. Arus kas bebas disesuaikan positif sebesar Rp1,3 triliun menunjukkan GoTo mengalami perbaikan fundamental bisnis, profitabilitas, dan disiplin biaya.

Dua Mesin Pertumbuhan: Fintech Memimpin, ODS Stabil

A. Segmen Fintech (GoPay & Pinjaman)

Jika harus memilih satu narasi dominan dari laporan Q1 2026, jawabannya adalah Fintech. EBITDA Fintech yang disesuaikan melonjak 674% year-on-year menjadi Rp364 miliar, kuartal keenam berturut-turut yang menguntungkan karena pengguna yang bertransaksi bulanan tumbuh 33% menjadi 27,5 juta dan total transaksi melebihi dua miliar, naik 84% year-on-year. Portofolio pinjaman GoPay berkembang 59% year-on-year menjadi Rp9,9 triliun, dengan perusahaan menyatakan bahwa kualitas kredit tetap konsisten meskipun pertumbuhan yang pesat. Lonjakan 674% EBITDA Fintech bukan anomali satu kuartal ini adalah kuartal keenam berturut-turut segmen ini mencetak profit. Artinya, GoPay telah bertransformasi dari sekadar dompet digital menjadi mesin kredit yang skalabel. Total transaksi di GoPay meningkat 84% menjadi lebih dari 2 miliar dan portofolio pinjamannya meningkat 59% setiap tahun. Dengan NPL di bawah 1%, kualitas kredit terjaga di tengah ekspansi agresif pencapaian yang tidak mudah bahkan bagi bank konvensional sekalipun.

Kami memperkirakan segmen Fintech akan berkontribusi sekitar dua pertiga dari pertumbuhan pendapatan grup di tahun ini.

B. Segmen On-Demand Services (Gojek) — Profitabel, Namun Ditekan Regulasi

Segmen On-Demand Services mencatatkan EBITDA yang disesuaikan sebesar 439 miliar rupiah, naik 40% year-on-year. GTV tumbuh 4% menjadi 16,3 triliun rupiah, sementara pendapatan naik 12% menjadi 3,4 triliun rupiah, didorong oleh permintaan yang lebih kuat dari pengguna dengan pengeluaran lebih tinggi, khususnya pada penawaran premium seperti GoFood Express, yang tumbuh 84%. Menarik dicermati: segmen ODS tumbuh EBITDA 40% meskipun GTV hanya tumbuh 4%. Ini mengindikasikan mix-shift yang sehat GoTo berhasil mengarahkan pengguna ke layanan premium dengan margin lebih tinggi. Namun ada satu catatan penting: nilai transaksi bruto mobilitas turun 3% dibandingkan tahun lalu menjadi Rp5,7 triliun, hal ini disebabkan oleh faktor musiman. Penurunan GTV mobilitas, meski diklaim musiman (Ramadan mengurangi perjalanan kantor), tetap harus dipantau ketat mengingat ini adalah segmen yang paling terdampak Perpres 27/2026.

C. Kontribusi Tokopedia

GoTo menjual 75% saham Tokopedia ke ByteDance pada tahun 2023 tetapi perjanjian tersebut mencakup perjanjian komersial yang menghasilkan pendapatan untuk GoTo setiap kuartal berdasarkan GMV Tokopedia. Jumlah tersebut menghasilkan $16,7 juta (Rp 288 miliar) pada kuartal terakhir jumlah tersebut merupakan kontribusi terbesar hingga saat ini dan meningkat 2x lipat dari Q1 2024. Imbalan fee Tokopedia yang terus tumbuh merupakan aset tersembunyi di neraca GoTo yang sering diremehkan pasar.


Kualitas Laba: Apakah Ini Berkelanjutan?

Pertanyaan yang paling sering diajukan investor kepada Kami adalah: “Apakah laba Rp171 miliar ini bersifat struktural atau hanya one-off?” Jawaban kami tegas: struktural, dengan catatan.

Tiga faktor yang memperkuat argumen struktural ini. Pertama, AI-driven cost reduction GoTo menggantikan perangkat lunak pihak ketiga dengan alat AI in-house, memangkas biaya IT secara permanen. Kedua, fintech memiliki karakteristik marginal cost mendekati nol menambah 1 juta pengguna GoPay tidak membutuhkan penambahan biaya operasional proporsional. Ketiga, arus kas bebas positif Rp1,3 triliun menunjukkan uang masuk lebih banyak dari yang keluar siklus self-funding telah dimulai.


Analisis Dampak yang Komprehensif Perpres 27/2026

Presiden Prabowo menandatangani sebuah regulasi yang langsung mengubah peta persaingan industri transportasi digital Indonesia. Sesuai Perpres Nomor 27 Tahun 2026, pemerintah menetapkan porsi pendapatan untuk perusahaan aplikator sebesar delapan persen. Artinya, para driver atau ojek online akan memperoleh penghasilan sebesar 92 persen dari pendapatan. Perpres ini juga mewajibkan perusahaan aplikator untuk memberikan perlindungan jaminan sosial bagi para mitranya.

Ini adalah pergeseran struktural terbesar dalam industri ojol Indonesia sejak regulasi tarif 2020. Namun seberapa besar dampaknya terhadap GOTO?

Kalkulasi Dampak Margin

Sebelum Perpres, rata-rata potongan komisi aplikator berkisar 20%. Dengan Perpres 27/2026, batas maksimal menjadi 8%. Artinya, untuk setiap Rp100 pendapatan driver, GoTo hanya boleh mengambil Rp8 turun dari Rp20. Secara kasar, ini adalah kompresi take rate sebesar 60% di segmen mobilitas.

Sebelum Perpres, rata-rata potongan komisi aplikator berkisar 20%. Dengan Perpres 27/2026, batas maksimal menjadi 8%. Artinya, untuk setiap Rp100 pendapatan driver, GoTo hanya boleh mengambil Rp8 turun dari Rp20. Secara kasar, ini adalah kompresi take rate sebesar 60% di segmen mobilitas.

Lima Implikasi Strategis

Pertama, penyesuaian tarif konsumen menjadi hampir tak terhindarkan. GoTo perlu menaikkan tarif layanan untuk mengkompensasi pendapatan yang hilang dari komisi driver. Ini merupakan trade-off antara volume perjalanan dan margin per perjalanan. Kedua, dari sisi pengemudi, kebijakan terbaru pemerintah terkait perlindungan pekerja transportasi online dan pengaturan potongan platform sebesar 92:8 belum tentu meningkatkan pendapatan pengemudi secara signifikan skema tarif yang berlaku saat ini justru menjadi faktor kunci yang membatasi kenaikan pendapatan driver. Artinya, jika tarif tidak naik, driver pun tidak otomatis lebih sejahtera. Ketiga, kewajiban BPJS Kesehatan dan JKK menciptakan beban biaya baru yang perlu diestimasi dengan cermat namun di sisi lain meningkatkan loyalitas dan retensi driver. Keempat, Perpres ini berlaku sama untuk Grab dan seluruh aplikator, sehingga tidak menciptakan disadvantage kompetitif bagi GoTo secara spesifik. Kelima, GoTo yang memiliki ekosistem lebih luas (fintech, delivery, e-commerce) lebih mampu menyerap tekanan margin ODS dibandingkan pemain yang hanya bergantung pada ride-hailing

Skenario Proyeksi

Dalam skenario base case kami, GoTo mampu mengkompensasi sekitar 50-60% dari tekanan margin ODS melalui kombinasi kenaikan tarif parsial, efisiensi AI, pertumbuhan fintech yang terus menguat, dan pertumbuhan delivery (GoFood, GoSend) yang kurang terpengaruh regulasi ini. Target EBITDA FY26 Rp3,2-3,4 triliun masih achievable, meski dengan risiko downside di kuartal Q2-Q3 saat implementasi Perpres mulai efektif.

Perbandingan Regional: GOTO vs Grab

Untuk perspektif yang lebih kaya, kami membandingkan posisi GOTO dengan Grab, rival regionalnya yang baru saja menyelesaikan tahun pertama profitabilitas penuh. Sangat menarik untuk membandingkannya secara langsung dengan Grab, yang baru saja meraih keuntungan penuh pertamanya, tetapi ada perbedaan yang mencolok di antara keduanya. Grab secara luas memperketat bisnis mobilitas intinya untuk mencapai keuntungan secara teratur. Keuntungan GoTo sebagian besar berasal dari bisnis fintech-nya yang berkembang dan pendapatan dari kemitraannya dengan TikTok.

Ini adalah perbedaan mendasar dalam quality of earnings. GoTo menghasilkan laba melalui pertumbuhan revenue yang genuine- fintech yang berkembang organik, bukan sekadar efisiensi biaya defensif. Dalam jangka panjang, model GoTo secara teori lebih sustainable karena didukung diversifikasi pendapatan yang lebih luas.


Risiko Utama yang Perlu Dimonitor

Di luar Perpres 27/2026, terdapat tiga risiko makro yang kami pantau secara ketat. Pelemahan rupiah di level Rp17.300/USD berpotensi menekan biaya operasional dan daya beli konsumen. Selain itu, ekspansi loan book GoPay yang agresif sebesar 59% YoY perlu diimbangi dengan manajemen risiko kredit yang disiplin, jika kondisi makro memburuk, NPL bisa meningkat lebih cepat dari yang diantisipasi. Terakhir, saham GOTO masih tercatat turun 23% secara year-to-date, mengindikasikan pasar belum sepenuhnya mencerna transformasi fundamental yang sedang berlangsung ini justru menciptakan entry point yang menarik bagi investor jangka menengah.

Social Share