
“Pak YEF, saya baru saja bergabung sebagai investor saham tiga bulan lalu. Teman-teman saya di grup WA ramai membahas ‘Sell in May and Go Away’ dan menyarankan saya untuk menjual semua saham saya sebelum akhir April. Apakah ini benar? Apakah IHSG selalu jatuh di bulan Mei? Saya takut kehilangan uang yang sudah saya investasikan.”
— konsultasi dari klien baru, diterima tim konsultasi YEF Advisory, April 2026
Pertama, terima kasih telah bertanya sebelum bertindak. Itu saja sudah menempatkan anda di atas mayoritas investor ritel yang bertindak dulu, baru menyesal kemudian.
Kedua, izinkan saya membawa Anda ke laboratorium data bukan ke ruang gosip grup WhatsApp. Sebab pepatah keuangan, seperti pepatah pada umumnya, sering kali mengandung kebenaran parsial yang berbahaya jika ditelan bulat-bulat tanpa konteks.
Setiap mitos pasar mengandung benih kebenaran. Tugas analis adalah memisahkan benih itu dari sekamnya — lalu memutuskan apakah benih itu tumbuh di tanah yang kita injak.”
Asal-Usul Sebuah Pepatah yang Salah Diimpor
“Sell in May and Go Away, and Come Back on St. Leger’s Day” adalah adagium yang lahir di London pada abad ke-19. St. Leger’s Day adalah hari perlombaan kuda di bulan September — artinya, para bangsawan dan bankir Inggris secara harfiah meninggalkan kota selama musim panas untuk berlibur di pedesaan, meninggalkan pasar dalam kondisi sepi dan cenderung lesu.
Fenomena ini kemudian dikonfirmasi secara statistik di pasar Amerika Serikat, di mana periode November–April secara historis memang mencatat return rata-rata yang lebih tinggi dibanding periode Mei–Oktober. Riset Bouman & Jacobsen (2002) yang diterbitkan di American Economic Review menjadi rujukan akademis utama yang mempopulerkan efek ini di kalangan investor global.
Konteks Historis: Dalam konteks pasar Amerika, data historis S&P 500 memang menunjukkan bahwa periode November–April rata-rata memberikan return sekitar 7%, sementara periode Mei–Oktober hanya sekitar 2%. Perbedaan ini nyata dan konsisten dalam data jangka panjang AS.ini adalah kata kunci yang sering diabaikan, efek ini bervariasi signifikan dari satu pasar ke pasar lain, dan bahkan dari satu dekade ke dekade berikutnya di pasar yang sama. Ia bukan hukum alam. Ia adalah pola statistik dengan pengecualian yang tidak sedikit.
Yang lebih penting: pasar Indonesia bukan pasar Amerika. Struktur demografinya berbeda, musim fiskalnya berbeda, pola dividen dan musim Lebaran memengaruhi perilaku investor secara unik, dan basis investornya didominasi oleh faktor-faktor lokal yang tidak berkorelasi langsung dengan kebiasaan bankir Inggris abad ke-19.
20 Tahun Data IHSG di Bulan Mei: Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Kami memeriksa data penutupan IHSG setiap akhir April dan akhir Mei selama 20 tahun, dari 2005 hingga 2024. Berikut adalah datanya — lengkap, tidak dipilih-pilih, dan tidak disaring untuk membuktikan narasi tertentu.

Angka-angka di atas berbicara lebih keras dari narasi mana pun. Dari 20 tahun data, IHSG mencatat return positif di bulan Mei sebanyak 13 kali, atau 65% dari waktu. Rata-rata returnnya adalah +1,8% jauh dari gambaran “bulan yang selalu jatuh” yang sering dinarasikan dengan Sell in May.
Membedah Tahun-tahun Negatif: Semua Ada Alasannya
Hal yang lebih menarik terjadi ketika kita memeriksa tujuh tahun di mana IHSG memang turun di bulan Mei. Apakah penurunan itu disebabkan oleh “Sell in May”? Atau ada sebab yang jauh lebih fundamental?
| Tahun | Return Mei | Konteks | Penyebab Utama |
| 2006 | -3,6% | Pasar global terkoreksi | Fed hike suku bunga AS, selling pressure global |
| 2008 | -5,1% | Krisis finansial global | Pre-Lehman crisis, komoditas dan kredit global kacau |
| 2011 | -0,4% | Hampir flat | Kekhawatiran Eropa, turun tipis — bukan crash |
| 2012 | -8,2% | Krisis Eurozone memuncak | Yunani terancam keluar euro, risk-off global masif |
| 2013 | -4,7% | Taper tantrum pertama | Bernanke umumkan tapering, EM selloff besar |
| 2018 | -3,0% | Perang dagang AS-China | Tarif Trump, rupiah melemah, tekanan EM secara umum |
| 2023 | -2,1% | Banking crisis AS mini | SVB dan Signature Bank collapse, risk-off global |
Tidak satu pun dari tujuh tahun negatif tersebut yang turun karena “musim Sell in May.” Semuanya turun karena peristiwa makroekonomi global yang jelas, teridentifikasi, dan berdampak pada seluruh pasar emerging market secara bersamaan. Jika IHSG tidak turun di bulan Mei karena peristiwa-peristiwa itu, ia akan turun di bulan lain kapan saja peristiwa serupa terjadi.
Bahkan di tahun-tahun “turun” seperti 2013 (taper tantrum), investor yang bersabar dan tidak menjual di Mei akan melihat IHSG kembali ke level semula dalam 3–6 bulan. Lebih buruk lagi, mereka yang menjual di bulan Mei justru sering ketinggalan rebound bulan Juli dan Agustus yang datang setelah koreksi.
Apa yang Terjadi Setelah Mei? Data Juni dan Juli Bicara
Narasi Sell in May menyiratkan bahwa periode Mei–Oktober adalah “musim buruk” yang harus dihindari. Mari kita periksa apa yang terjadi pada bulan Juni dan Juli, bulan pertama setelah investor “seharusnya sudah keluar.”

Dari 20 tahun data, rata-rata return IHSG di bulan Juni adalah -0,3% memang sedikit negatif, tetapi jauh dari bencana yang dibayangkan. Bulan Juli, sebaliknya, rata-rata +2,2% salah satu bulan terkuat sepanjang tahun. Artinya, investor yang patuh “go away” di Mei dan menunggu hingga November sering kali melewatkan rebound Juli yang substantial.
Mengapa Pasar Indonesia Berbeda dari Pasar Barat
Ada beberapa alasan struktural mengapa “Sell in May” tidak relevan di Indonesia dengan cara yang sama seperti di pasar Barat:
Pertama, musim Lebaran dan efek THR. Selama bertahun-tahun, konsumsi domestik melonjak menjelang dan sesudah Lebaran yang sering jatuh di kisaran Maret–Mei. Sektor consumer goods, perbankan, dan ritel sering mencatat kenaikan pada periode ini, bukan penurunan.
Kedua, siklus dividen bank-bank besar Indonesia. BBCA, BBRI, BBNI, dan BMRI biasanya mengumumkan dan membayar dividen di kuartal pertama hingga awal kuartal kedua. Investor yang keluar di Mei berpotensi kehilangan momentum dividend capture yang sering mengangkat harga saham-saham blue chip.
Ketiga, basis investor Indonesia semakin didominasi oleh investor ritel domestik. Data OJK menunjukkan lonjakan masif jumlah SID (Single Investor Identification) pasca pandemi. Investor domestik yang perilakunya dipengaruhi lebih banyak oleh faktor lokal bukan oleh kebiasaan musim panas banker London kini memiliki dampak yang lebih signifikan terhadap pergerakan IHSG.
Kesimpulan
Data 20 tahun IHSG sudah berbicara: bulan Mei bukan bulan yang harus ditakuti. Ia adalah bulan yang memiliki 65% probabilitas naik, dengan rata-rata return positif, dan ketika ia turun — penyebabnya bukan “musim,” melainkan peristiwa makroekonomi global yang spesifik dan teridentifikasi.
Jual saham Anda jika fundamentalnya berubah. Jual jika Anda butuh uangnya. Jual jika thesis investasi Anda terbukti salah. Tapi jangan pernah jual hanya karena sebuah pepatah dari London abad ke-19 yang salah diimpor ke grup WhatsApp investor Jakarta abad ke-21.
Investasi anda akan lebih mudah dan terarah bersama YEF Advisor. Dapatkan rekomendasi saham layak investasi, Panduan akumulasi hingga distribusi serta konsultasi portofolio investasi. Join Private Investing Room (PIR) atau PIR Syariah sekarang juga.
