
Pada perdagangan Kamis (23 Juli 2026), IHSG kembali mengalami tekanan jual setelah sempat menguat hingga menyentuh area 6.454 pada sesi pertama. Namun memasuki sesi kedua, indeks berbalik arah dan ditutup melemah di kisaran 6.300 seiring meningkatnya aksi profit taking pada sejumlah saham berkapitalisasi besar, terutama BBCA, TPIA, dan DSSA. Tekanan jual pada saham-saham tersebut menjadi faktor utama yang membatasi kelanjutan reli IHSG. Meski demikian, pelemahan ini masih tergolong wajar setelah reli yang berlangsung cukup kuat dalam beberapa pekan terakhir.
Meski demikian, pelemahan ini masih tergolong wajar setelah reli yang berlangsung cukup kuat dalam beberapa pekan terakhir. Dari sisi sentimen, keputusan Bank Indonesia mempertahankan BI Rate di level 5,75% sebelumnya masih memberikan dukungan terhadap stabilitas pasar, sehingga koreksi yang terjadi lebih didominasi oleh aksi ambil untung dibanding perubahan sentimen fundamental.
Secara teknikal, belum terdapat perubahan pada skenario utama yang kami gunakan. Setelah berhasil mematahkan tren turun dan menembus area 6.250, IHSG kini memasuki fase koreksi sehat untuk menguji kekuatan tren naik yang baru terbentuk.
Dalam jangka pendek, kami melihat peluang IHSG melakukan pengujian terhadap area support 6.253. Apabila tekanan jual masih berlanjut, area 6.090 menjadi support berikutnya yang berfungsi sebagai pengujian minor uptrend.
Selama IHSG masih mampu bertahan di atas area support tersebut, struktur kenaikan jangka menengah tetap terjaga dan koreksi yang terjadi masih dapat dikategorikan sebagai healthy correction dalam sebuah tren naik. Sebaliknya, apabila support tersebut ditembus dengan volume yang tinggi, maka peluang konsolidasi yang lebih dalam perlu mulai diantisipasi sebelum indeks melanjutkan penguatan berikutnya.
Strategi Trading & Investing
Untuk Trading
- Tetap disiplin melakukan take profit pada saham yang telah mencapai target teknikal.
- Fokus pada saham yang masih memiliki relative strength dan belum mengalami kenaikan signifikan.
- Hindari melakukan chasing pada saham yang telah mengalami reli tajam.
- Siapkan dana untuk memanfaatkan peluang apabila terjadi koreksi menuju area support.
Untuk Investing
- Strategi belum berubah.
- Manfaatkan koreksi sehat sebagai kesempatan melakukan buy on weakness pada saham-saham berfundamental kuat.
- Hindari menambah posisi pada saham yang telah mengalami kenaikan terlalu tinggi tanpa didukung perbaikan valuasi.
- Tetap lakukan akumulasi secara bertahap (scaling in) untuk menjaga fleksibilitas portofolio.
Koreksi Sehat Bukan Berarti Tren Berakhir
Sering kali investor menganggap setiap penurunan indeks sebagai sinyal berakhirnya tren naik. Padahal, dalam analisis teknikal, koreksi sehat merupakan bagian yang normal dari sebuah uptrend.
Selama support penting masih mampu dipertahankan, koreksi justru berfungsi sebagai proses konsolidasi untuk meredakan kondisi overbought sekaligus membuka ruang bagi investor baru untuk masuk pada harga yang lebih menarik.
Oleh karena itu, fokus investor saat ini sebaiknya bukan pada besarnya koreksi harian, melainkan pada apakah struktur higher low masih tetap terjaga. Selama struktur tersebut belum rusak, probabilitas tren naik berlanjut masih lebih besar dibanding peluang pembalikan arah.
Pelemahan IHSG setelah sempat menguji area 6.450 lebih mencerminkan aksi profit taking pada saham-saham big caps dibanding perubahan sentimen pasar secara fundamental.
Secara teknikal, koreksi menuju 6.253–6.090 masih tergolong wajar sebagai bagian dari pengujian minor uptrend yang telah terbentuk.
Trading dan investasi tanpa pusing dipandu advisor profesional, Join membership YEF Advisor sekarang juga
